15 Feb 2020

Kawasan berkembang berkat sawit dan kelompok tani

images

Donggala (ANTARA) - Saprudin sama sekali tak menyangka bahwa Dusun Sempo yang ia tempati sejak kecil kini maju pesat.

Masih terekam jelas di benaknya. Betapa dulu, dari tempat kelahirannya itu menuju Donggala, Palu, Sulawesi Tengah, harus ditempuh dalam waktu satu hari satu malam.

“Eiiih, dulu cuma bisa naik kapal laut,” kata lelaki berusia 53 tahun ini. Tak lebih dari 10 tahun kemudian, kini dua tempat itu dapat dicapai dalam dua hingga tiga jam saja berkat bermacam kemajuan pembangunan. Lelaki yang menjabat sebagai Kepala Dusun ini terharu.

Donggala yang menjadi bagian dari Sulawesi Tengah memang akrab dalam hidup Saprudin. Ke kota itulah ia sesekali menjual kopra dari kebun orang tuanya yang terletak di Dusun Sempo, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Bukan hanya perubahan fisik wilayah dengan jalur transportasi yang mulus dan memudahkan mobilitas, yang membuat Saprudin makin terharu adalah lompatan besar dalam hidupnya.

Ia tak bisa membayangkan bila dusunnya tak kedatangan investor. Mungkin dirinya masih kerja serabutan seperti dulu. Tanpa pekerjaan tetap, hanya mengandalkan kebun kelapa dalam milik orang tuanya.

“Terutama, sewaktu kebun sawit PT Surya beroperasi,” lanjut Saprudin menyinggung PT Suryaraya Lestari 1 yang berdiri di dekat dusunnya.

Menurut lelaki yang telah dikaruniai lima orang anak ini, dari orang-orang perusahaan itulah ia belajar banyak hal berguna.

"Sawit Surya menjadikan saya ‘manusia’,” kata lelaki berdarah Bugis ini.

Padahal, awalnya ia selalu berkelit dan menghindar ketika diajak menjadi pekebun kelapa sawit. Kebetulan, waktu itu, sekitar tahun 2006 PT Surya meluncurkan program kepedulian sosial yang dikemas melalui kegiatan yang diberi nama Income Generating Activity (IGA). Melalui program tersebut, PT Surya membantu masyarakat sekitar mendapatkan bibit dan mengajarkan tata cara mengelola kebun kelapa sawit yang baik.

Berkat “paksaan” salah seorang kerabat, ia akhirnya mau mendekat dengan orang-orang perusahaan. Saprudin bahkan dipercaya menjadi perantara yang menghubungkan antara masyarakat sekitar dan perusahaan.

“Tahap pertama, belum banyak yang tertarik ikut menanam kelapa sawit. Total cuma ada 20-an orang,” lanjutnya.

Perusahaan terus memberi semangat. Saprudin pun tak mundur. Ia maju terus mendistribusikan bibit-bibit kelapa sawit ke mereka yang berminat. Beruntung, semakin lama semakin banyak yang tertarik, mencapai ratusan orang. Bahkan, warga dari dusun-dusun tetangga pun meminta program yang sama kepadanya.

“Sekarang sudah banyak yang sukses,” kata Saprudin. Tidak sedikit yang membangun rumah, membeli kendaraan. Dan yang tidak kalah penting, menurutnya, banyak yang menyekolahkan anak-anak hingga ke bangku universitas. Termasuk anaknya yang salah seorang malah sedang menyelesaikan program S2 di Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah.

Kelompok tani

Di balik niat baik perusahaan mengajak masyarakat berkebun kelapa sawit, menurutnya, ada satu pelajaran berharga yang sangat menentukan kesuksesan masyarakat.

“Yaitu, kelompok tani,” ujar Saprudin.

Dengan organisasi inilah petani-petani kelapa sawit saling bekerja sama satu sama lain. Mulai dari menanam dan merawat kebun yang menjadi kepentingan bersama.

“Dengan kelompok tani ini, semua masalah yang dihadapi dibicarakan dan ditangani bersama-sama,” katanya.

Karena itu, ia sangat menyayangkan jika kelompok tani sampai bubar. Ia berharap dan berusaha agar organisasi para petani ini tetap utuh dan anggota-anggotanya tetap bergabung di dalamnya.

Dampak hilangnya kelompok tani akan sangat banyak. Salah satu efek buruk itu, menurut Saprudin, adalah merosotnya kualitas perawatan infrastruktur jalan di kebun masyarakat.

“Mudah-mudahan kelompok tani bisa dihidupkan dan berfungsi lagi,” ujar petani yang juga dipercaya sebagai Ketua Wadah Koordinasi Antar Kelompok Tani (WKAK) sejak 2006 ini.

Sumber: web.oppobaca.news/44533572