11 Nov 2019

Kenaikan Harga TBS Sawit juga Disebabkan Kurangnya Produksi Buah Sawit

images

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Kenaikan Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa Sawit di Kota Subulussalam hingga beberapa kali dalam sebulan terakhir merupakan angin segar bagi para petani di daerah ini meski sebenarnya ada persoalan lain yakni produksi menurun.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam, Subangun Berutu kepada Serambinews.com, Jumat (8/11/2019).

Subangun yang akrab disapa Akeng ini pun menjelaskan faktor yang mempengaruhi kenaikan harga TBS di Subulussalam.

Diakui, kenaikan dipicu harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang menguat sehingga prediksi kenaikan berdampak pada TBS.

Tapi, lanjut Subangun kenaikan TBS juga tidak terlepas akibat menurunnya produksi buah kelapa sawit milik petani di sana.

”Memang CPO naik makanya TBS ikut naik. Tapi ini juga karena buah kurang lantaran produksi menurun,” ujar Akeng

Pabrik saat ini ditenggarai kekuarangan pasokan buah dari petani akibat terjadinya penurunan produksi. Sebab saat ini memang merupakan masa buah trek. Dikatakan, dalam dunia perkebunan kelapa sawit ada masa buah melimpah dan trek.

Trek merupakan musim dimana tanaman sawit tidak berproduksi maksimal. Kondisi tersebut diakibatkan, kondisi iklim terutama cuaca yang tidak menentu.

Saat memasuki masa pembungaan buah sawit pasokan air hujan kurang maksimal. Meski telah dilakukan pemupukan, hasil TBS atau brondolan menurun.

Nah, sesuai hasil penelitian masa trek terjadi dalam kurun waktu Oktober-Maret. Masa itu merupakan proses pembungaan dan terjadi tren trek hingga produksi menurun.

Kondisi ini, kata Subangun diperparah oleh tidak terawatnya kebun petani akibat harga yang sejak dua tahun terakhir anjlok.

”Dunia sawit ada musim buah dan tren trek. Ini memang terjadi tiap akhir tahun hingga Maret. Tapi masalah ini semakin diperparah oleh harga yang kemarin anjlok sehingga kebun petani tidak terawat seperti pemupukan yang menjadi hal wajib bagi tanaman sawit,” terang Subangun.

Lebih jauh dikatakan, imbas trek yang diakibatkan oleh perubahan cuaca sangat terasa pengaruhnya.

Produksi tandan buah segar serta harga yang juga menurun, membuat penghasilan pekebun sawit berkurang.

Diterangkan juga bila harga TBS sawit rendah pasti berdampak luar biasa bagi petani. Saat musim trek yang menjadi masa paceklik di dunia petani kelapa sawit.

Kondisi ini memaksa petani untuk melakukan perawatan kebun semampunya, bahkan ada yang mulai tidak melakukan pemupukan, lantaran ketiadaan dana untuk membelinya.

Dia menjelaskan, kenaikan TBS sawit akibat naiknya harga CPO dalam dua minggu terakhir dan diprediksi akan terus mengalami kenaikan.

Sebelumnya, harga CPO di KPB Nusantara, Medan Sumatera Utara dibawah Rp 7.080 an. Lalu harga CPO naik menjadi Rp. 7.225 per kilogram.

Nah, saat ini harga CPO kembali menunjukan kenaikan di angka Rp 7.633 per kilogram. Terakhir, per 5 November lalu harga CPO di PBO Belawan mencapai Rp 7.875 per kilogram.

Dengan demikian jika dirumuskan dengan system perhitungan pencarian harga TBS maka sejatinya di level petani mencapai Rp 1.350 per kilogram.

Caranya yakni setiap satu kilogram CPO dikali 19 persen sehingga muncul angka dan itulah harga TBS.

Jadi, jika saat ini harga CPO Rp 7.875 X 19 % maka harga TBS sejatinya mencapai 1.496 per kilogram. Tapi ini belum final karena ada margin.

Selain itu, mengapa harga TBS tidak langsung mengikuti harga CPO lantaran adanya jeda waktu pengiriman ke PBO Belawan.

“Harusnya harga TBS sampai Rp 1.400 per kilogram. Tapi itulah pabrik kadang tidak lantas menaikan sesuai CPO. Ini karena pas harga CPO naik mereka masih menyetok barang. Kalau langsung dinaikkan TBS, nanti mereka takut pas dibawa ke Medan turun,” tambah Akeng.(*)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2019/11/08/kenaikan-harga-tbs-sawit-juga-disebabkan-kurangnya-produksi-b