21 Apr 2020

Keringanan KUR Jadi Jurus Selamatkan Bisnis Kopi

images

JAKARTA – Keringanan kredit usaha rakat (KUR) dan penyiapan pasar ekspor alternatif menjadi jurus pemerintah menjaga agar pengusaha kopi bertahan di masa pandemi covid-19. Pelaku usaha menyebutkan omzet penjualan kedai kopi anjlok hingga mencapai 90%.

“Tahun ini, Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian disiapkan dengan bunga rendah yakni 6% per tahun dan tanpa agunan untuk pinjaman maksimal Rp50 juta,” kata Kasubdit Tanaman Penyegar, Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro, dalam acara Diskusi Kopi (DISKO) virtual dengan topik "Antisipasi Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Kopi di Indonesia” di Jakarta, Kamis (16/4).

Di tahun 2020, lanjutnya, Ditjen Perkebunan ditarget merealisasi KUR sebesar Rp20,37 triliun dengan rincian di sektor hulu Rp19,76 triliun dan di hilir Rp600 miliar.

Kementan juga mencari alternatif pasar kopi Indonesia. Berdasarkan data BPS, Amerika Serikat (AS) menjadi pasar utama kopi Indonesia. Pada 2018, ekspor kopi ke AS mencapai US$254 juta dengan berat 52 juta ton.

Nilai yang diraih dari perdagangan kopi dengan AS tersebut mencapai 31,47% dari total ekspor kopi nusantara sebesar US$806,87 juta.

Berada di tempat berikutnya adalah Jepang dengan nilai US$84,31 juta dan berat 30,36 juta ton, Malaysia senilai US$66,46 juta dan volume 37,31 juta ton.

Negara-negara tersebut kini tengah menerapkan kebijakan guna mengerem laju penularan covid-19. AS menerapkan penutupan sementara (lockdown) di beberapa negara bagian, begitu pula dengan Malaysia. Sementara, Jepang menerapkan darurat nasional di Tokyo dan enam wilayah lainnya. Namun, daerah lainnya meminta pemberlakukan darurat nasional menyusul kekhawatiran lajunya penyebaran covid-19.

“Untuk komoditas yang besar di sektor ekspor seperti kopi, kami mengkaji alternatif pasar ke negara-negara, seperti Jerman, Prancis, Amerika Serikat, Argentina, Jepang, Korea Selatan, dan Afrika Selatan,” ujarnya.

Senada, Kementerian Koperasi dan UKM berupaya memitigasi dampak covid-19 terhadap UMKM dan komunitas kopi di Indonesia, agar kelangsungan usaha tetap terjaga selama pandemi. Upaya tersebut ditempuh melalui sinergi berbagai skema dan program dari kementerian dan lembaga.

“Selain anggaran untuk penanganan kesehatan, jaring pengaman sosial dan penyelamatan UMKM telah menjadi prioritas pemerintah,” kata Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM M Riza Damanik.

Langkah tersebut, lanjut Riza, antara lain melalui relaksasi kredit usaha dan stimulus pinjaman bagi UMKM dan koperasi, pembebasan pajak UMKM, Kartu Pra Kerja, Kartu Sembako, Bantuan Tunai, dan Stimulus Daya Beli Produk UMKM.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) Paramita Mentari Kesuma menjelaskan, berdasarkan survei singkat yang dilakukan SCOPI kepada anggota SCOPI, Master Trainers (MT), dan petani kopi dampingan MT di 15 provinsi, para MT dan petani sudah mengetahui apa yang dimaksud pandemi covid-19.

“Bisa dikatakan 90% dari responden sudah mengetahui tentang covid-19. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka belum memperoleh informasi terkait langkah antisipasi, dukungan atau bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah kepada koperasi atau petani kopi,” ungkapnya.

Dalam survei itu, juga didapatkan jenis-jenis bantuan yang diharapkan para petani selama pandemi covid-19.

Pelaku usaha kopi, mulai dari petani hingga eksportir mengharapkan adanya dukungan pemerintah berupa bantuan finansial langsung (pendanaan), bantuan langsung tunai (BLT), biaya operasional, insentif pajak, membuka resi gudang yang bisa diakses.

“Sebagai platform nasional kopi berkelanjutan di Indonesia, SCOPI berharap untuk dapat menjaring aspirasi berbagai pemangku kepentingan dalam menanggapi dampak covid-19 terhadap sektor perkopian melalui kegiatan DISKO kali ini,” ujarnya.

SCOPI sebagai wadah bagi berbagai pemangku kepentingan yang peduli terhadap kopi berkelanjutan akan memfasilitasi pelaksanaan langkah konkrit untuk menjaga stabilitas produksi dan pasar kopi di Indonesia.

Dalam survei yang dilakukan, para anggota SCOPI yang merupakan pelaku UMKM, roaster, eksportir, pendamping petani, LSM, dan pengelola koperasi kopi menyatakan akan tetap melakukan pembelian kopi dan menjualnya secara online. Pendampingan dan sosialisasi kepada petani juga akan dilakukan secara online.

“SCOPI akan merumuskan kelanjutan aksi setelah diskusi ini. Nantikan DISKO dan program selanjutnya yang kami harapkan bisa menjadi sebagian solusi untuk ikut berkontribusi mengurangi dampak negatif pandemi covid-19 terhadap mata rantai sektor perkopian di Indonesia,” jelasnya.

Ketua Dewan Pengurus SCOPI Irvan Helmi menambahkan, pada masa sekarang ini, sangat krusial untuk menangkap aspirasi stakeholders dan mengajak gerakan atau aksi yang bersifat kolaborasi, agar mitigasi dampak negatif terutama untuk petani.

“Yang pasti, upaya menjaga stabilitas di sektor kopi juga diterapkan petani dan pengusaha kopi,” ungkapnya.

Omzet Anjlok

Pemilik CV Frinsa, Wildan Mustofa, selaku perwakilan dari pengusaha kopi dan anggota SCOPI, mengatakan, para pengusaha kecil dan menengah telah melakukan adaptasi pada proses penjualan kopi, seperti melakukan penjualan secara online dan memberikan diskon produk.

“Para pemilik kafe skala kecil dan menengah mengadopsi beberapa taktik penjualan, seperti menjadi mitra di market place, memberikan diskon produk serta layanan antar. Tapi, tidak bisa dipungkiri, omset penjualan menurun drastis, bisa sampai 90%,” ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa dirinya turut mendampingi petani kopi di Kecamatan Pangalengan, Provinsi Jawa Barat.

Wildan menambahkan, para pengusaha kopi akan tetap membeli hasil panen kopi ke petani tapi dengan skala yang mungkin lebih kecil.

“Oleh karenanya kami butuh dukungan Pemerintah untuk juga membeli atau menampung hasil panen petani agar harga pasaran kopi tidak turun drastis,” ucapnya.

Menurut Wildan, periode panen kopi sudah dimulai di beberapa lokasi seperti Aceh dan puncaknya pada Mei hingga September 2020.

Sebagai informasi, dari Festival Seduh atau Brewfest 2020 yang berlangsung 21-23 Februari 2020 lalu di Jakarta, diketahui pertumbuhan jumlah kedai kopi di Jakarta naik tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Jumlahnya kini mencapai 3.000 hingga 8.000 outlet.

Sumber: web.oppobaca.news/48168687