27 Mar 2020

Tudingan Sawit Penyebab Deforestasi hanya Ilusi

images

Menuduh perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi, itu adalah ilusi. Tuduhan yang datang dari Uni Eropa itu tidak berdasarkan fakta di lapangan. Pun tidak berdasar kajian ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan.

Pendapat ini disampaikan oleh Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Dr Petrus Gunarso. “Apa yang dituduhkan Uni Eropa ini tidak benar. Banyak pertimbangan yang digunakan untuk membingkai sawit Indonesia yang tidak berdasar, ”kata Petrus.

Petrus pun menjelaskan terkait gamblang terkait deforestasi oleh perkebunan sawit tersebut. Dari sejarah awal, tanaman kelapa sawit berasal dari Ghana, Afrika dan ditanam pertama di Kebun Raya, Bogor. Kemudian dicoba ditanam di Sumatra Utara dan cocok jadi dikembangkan lebih luas.

“Dalam perkembangannya dari Sumatra Utara ke Riau, Sumatra Selatan hingga ke Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan. Itu dalam perjalanannya memang ada peralihan fungsi lahan, dari usaha perusakan yang dimulai tahun 1970-an peralihan cepat ke perkebunan, ”tutur Petrus saat dihubungi Rabu (18/3).

Petrus menjelaskan ada perbedaan antara perkebunan dan kehutanan, termasuk perizinan dan pengembangan usahanya serta sangat aman terkait dengan pembagian tata ruang. Sawit mulai tumbuh cepat kompilasi dari industri hutan ke perkebunan tetapi tidak dari kawasan hutan tetapi lebih dari konversi dari hutan tanaman industri atau dari wilayah daerah penggunaan lain (APL).

Hal ini menuntut penebangan hutan yang digaungkan Eropa untuk
sawit Indonesia tidak tepat. Resolusi Hutan terlengkap Eropa yang ada di Indonesia.

Di Indonesia, hutan ditetapkan sebagai tempat peristirahatan yang diusulkan pepohonan dan juga kawasan yang diadministrasikan sebagai hutan. Sedangkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang mengadopsi Uni Eropa menetapkan hutan dengan luas minimal 0,5 ha dengan ketinggian minimum 5 m dan membuat kanopi lebih dari 10%.

“Jika resolusi hutan Eropa dibuka mana 10% masuk resolusi
hutan, di Indonesia tidak ada lahan yang tidak tertutup. Mau tanam sawit di mana kita. Meski sudah berstatus APL, jika memenuhi kriteria resolusi hutan sesuai Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), kompilasi tanamannya diganti sawit ya dianggap deforestasi, ”katanya.

Sementara dalam peraturan hukum di Indonesia, definisi deforestasi sedang terjadi perubahan status dari kawasan hutan bukan menjadi kawasan hutan. Karena itu, meskipun suatu kawasan tidak ada tanamannya tetapi masuk dalam status kawasan hutan, tidak bisa dijadikan areal budidaya.

Dari penelitian yang dilakukan Petrus, ditemukan perubahan tutupan
antara Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda. Malaysia karena
memiliki kebun karet yang luas kemudian mengkonversikannya ke sawit, yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia yang juga melakukan konversi lahan yang sama.

Misalnya dari hasil penelitiannya dari citra satelit dari periode 1990-2012 estimasi lahan perkebunan dari tanah terlantar 43%, hutan
produksi terdegradasi 27%, tanah pertanian 14%, Hutan Tanaman Industri (HTI) 13%, dan hutan produksi 3%.

“Jadi bukan hutan hijau rimbun yang kemudian ditebang dan dijadikan
lahan sawit. Memang ada yang dari kebun rakyat dan kebun karet serta hutan tidak menjadi perkebunan dan ada juga yang APL daerah sebetulnya sudah rawan kondisinya, ”tutur Petrus.

Pada studi lain yang dilakukan Eric Meijjard dalam jurnal berjudul 'Kelapa Sawit dan Keanekaragaman Hayati' juga menemukan fakta serupa. Hilangnya hutan hujan tropis bukan pembangunan perkebunan kelapa sawit.

Jurnal tersebut diterbitkan antara tahun 1972-2015 hanya setengah
dari perkebunan yang dibuka dari hutan, sedangkan setengahnya lagi dari lahan pertanian, padang rumput, semak belukar, dan
penggunaan lahan lainnya.

Lebih lanjut, Meijjard menyatakan Pulau Kalimantan yang merupakan pulau penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada pulau Kalimantan yang memasuki wilayah Indonesia telah bertambah dan berkurang hutan skala besar karena ekstraksi dan pembakaran kayu jauh sebelum kelapa sawit muncul. Tanah yang dibuka tersebut barulah dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan luas kebun sawit di
Indonesia pada 2018 sebesar 14,03 juta hektar atau hanya 7% dari daratan Indonesia yaitu 187 juta ha sedangkan Total hutan di Indonesia masih meningkat 64,1% dari luas Indonesia dan APL sebesar 39 , 1%.

Dalam mengeluarkan ini pun Petrus juga menyatakan ada kesalahpahaman Eropa yang mengasumsikan perusahaan berada di tengah-tengah penduduk.

“Orang bayangannya sawit ada di tengah penduduk, padahal 60% penduduk ada di Jawa dan sawit itu sangat sedikit di Jawa. Mereka berfikir Indonesia itu satu pulau besar, ”tutur Petrus.

Petrus menolak untuk tutupan sawit dewasa tutupan sangat rapat
bahkan mencapai 90%, padahal dengan resolusi tutupan hutan 10% diperlukan kebun sawit masuk kategori hutan. Itu berarti Malaysia membahas kawasan perkebunannya sebagai hutan karena memiliki fungsi layaknya hutan yang tetap menyerap CO2, mencegah erosi karena keberadaan tanaman penutup.

Sawit sendiri merupakan salah satu tanaman nabati yang paling
efisien dalam produktivitas dibandingkan dengan konsumsi per hektar lahan. Petrus pun menghargai ini hanya karena permainan dagang, Indonesia dibawa karena menjadi penghasil minyak nabati terbesar di dunia. Dan produk minyak sawit memegang pasar terbesar di pasar minyak nabati dunia.

Dalam perhitungan cut off date deforestasi, perhitungan Eropa dengan metode yang tidak adil mana cut off date dimulai dari periode 2008.
Lalu deforestasi untuk pembukaan lahan minyak nabati lain seperti
Kedelai dan Bunga Matahari di Eropa dan Amerika telah jauh lebih dulu dilakukan.

Padahal data Departemen Pertanian AS (USDA) pada tahun 2017 telah membandingkan ekspansi perkebunan kelapa sawit dengan minyak nabati lainnya. Mengutip laporan USDA tersebut, pada tahun 1965 minyak nabati jenis lain seperti Kedelai telah menggunakan 52% area perkebunan, Bunga Matahari menggunakan 17%, Rapeseed atau Kanola menggunakan 16%, sedangkan minyak sawit hanya menggunakan 8%.

Pada 2017, area perkebunan untuk minyak nabati telah meningkat menjadi 61% untuk Kedelai, 12% untuk Bunga Matahari, 17% untuk Rapeseed, dan 10% untuk minyak kelapa sawit. sawit dan meningkatkan efisiensi lahan sawit yang ada untuk meningkatkan produktivitas.

Moratorium sawit telah disetujui sejak tahun 2011 dan terus diperpanjang hingga terakhir pada Inpres No 8 Tahun 2018 tentang
Penundaan dan Evaluasi Perizinan Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit yang menggantikan Jokowi pada 19 September 2018.

Manfaat sawit untuk lahan gambut


Kelapa sawit selalu mendapatkan tudingan Uni Eropa sebagai biang keladi akan terbakar hutan, khususnya perkebunan kelapa sawit yang berada di atas lahan gambut. Namun demikian, data yang dipaparkan Global Forest Watch (GFW) tidak disetujui.

GFW menyebutkan, kebakaran lahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 hanya 11% yang berada di kawasan perkebunan kelapa sawit dan 68% berada di luar konsesi. Demikian pula pada kebakaran lahan tahun 2015, GFW menyebutkan 14% kerusakan lahan di dalam perkebunan kelapa sawit sedangkan 66% di luar konsesi atau lahan terlantar.

Uni Eropa juga menuding emisi kelapa sawit Indonesia mencapai 90 ton CO2 akibat dekomposisi gambut. Hal tersebut dibantah oleh penelitian yang dilakukan Ketua Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) Supiandi Sabiham.

Ia mengutip dari penelitiannya menemukan emisi di Indonesia hanya 20-25 ton CO2 ekuivalen per hektar dalam satu tahun. Pertama dari akar dan kedua menentukan karbon dari gambut.

Jika kedua emisi itu digabungkan, transfer akan sangat besar. Penyebabnya, emisi dari kelapa sawit bisa mencapai sekitar 74%. Padahal emisi bersihnya sangat kecil dan hanya mencapai 20-25 ton CO2 ekuivalen.

“Kalau tidak ada tanaman yang wajar seperti itu, di mana kalau ada tanaman yang diemisikan diserap kembali untuk pembentukan biomassa oleh tanaman, termasuk sawit. 90 ton itu jika tidak ada yang menyerap, ”tutur Supiandi.

Sawitemen Supiandi memiliki keunggulan dalam karbon
yang lebih besar untuk biomassa yang lebih besar. Dari
jumlah CO2 yang diserap sawit memiliki kemampuan yang baik dibandingkan dengan bush belukar saja.

Memang hutan menjadi yang paling baik dalam penanaman CO2 tetapi dibandingkan dengan sawit yang memiliki banyak manfaat dan turunan produk ekonomi jauh lebih menguntungkan dari pada hutan yang hanya menganggur. Selain itu, jika gambut dibiarkan terlipat maka potensi terbakar akan lebih tinggi. (Dro / S2-25)

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/298049-tudingan-sawit-penyebab-deforestasi-hanya-ilusi?utm_so