01 Sep 2020

Tanggapan DPRD Probolinggo Soal Petani Kesal Bakar Tembakau

images

PROBOLINGGO, KOMPAS.com – Terkait kekesalan petani yang membakar daun tembakau gara-gara gudang tidak buka, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurahman menyebut, pihak gudang masih mempersiapkan diri untuk buka karena saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19. “Saya sudah menghubungi salah satu pihak gudang tembakau. Dalam waktu dekat akan dibuka. Memang sekarang agak ketat prosedur kesehataannya, karena wabah corona. Gudang tidak ingin jadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Kabupaten Probolinggo,” kata Wahid, saat dihubungi Kompas.com.

Menurut Wahid, saat ini sejumlah gudang yang biasa membeli gudang tembakau petani lokal tengah mempersiapkan tim dan protokol kesehatan.

Para pekerja yang terlibat dalam transaksi pembelian tembakau bakal menjalani rapid test dan prosedur yang telah ditetapkan, baik sebelum maupun setelah gudang dibuka.


“Memang saat ini musim panen tembakau. Pihak pabrik minta kesabaran dari petani,” tukas Wahid.

Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah gudang tembakau, yang selama ini membeli tembakau petani lokal.

Sebab, saat ini stok tembakau melimpah karena memasuki musim panen. Dewan mendorong agar gudang membeli tembakau petani Kabupaten Probolinggo atau tembakau lokal. Gudang harus memprioritaskan tembakau lokal. sedangkan tembakau dari luar kota bisa diambil setelah stok tembakau lokal terbeli. Apalagi, dari data Badan Pusat Statistik, Kabupaten Probolinggo menempati posisi keempat sebagai produsen tembakau terbesar di Jawa Timur.

Untuk meredam gejolak di kalangan petani, Wahid juga menyarankan agar harga beli tembakau milik petani disesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani selama menanam, merawat dan memanen tembaku. “Jangan sampai harga beli yang dietapkan gudang, tidak sesuai. Artinya lebih rendah dari biaya yang sudah dikeluarkan oleh petani. Saya pikir gudang sudah bisa menghitung,” tukas Wahid.

Wahid menambahkan, Pemkab Probolinggo harus turun mengatasi masalah yang dihadapi petani tembakau ini. Sebab, pada saat panen, harga tembakau petani tidak seimbang dengan biaya yang sudah dikeluarkan.


“Setidaknya ada enam gudang di Kabupaten Probolinggo yang membeli tembakau petani. Sesungguhnya, dengan gudang tembakau sebanyak itu, kalau gudang mau berbagi, tembakau lokal bisa terbeli semua. Malah gudang kekurangan tembakau lokal. Kalau gudang-gudang itu juga membeli tembakau dari luar kota, ya rusak tembakau lokal ini harganya,” ujar Wahid.


Wahid mengingatkan, saat ini ekonomi nasional tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi minus 5 persen gara-gara pandemi Covid-19. Maka, satu-satunya harapan adalah di sektor pertanian dan perkebunan.

Saat ini, lanjut Wahid, tembakau petani dihargai Rp 10.000-15.000 per kilogram. Tentu saja dengan harga segitu petani menjerit. Idealnya, daun tembakau bagian bawah dihargai Rp 26.000 per kg, sedangkan daun bagian atas Rp 30.000 ke atas. Wahid menuturkan, persoalan yang dihadapi petani tembakau di Kabupaten Probolinggo selalu sama tiap tahun.


Karenanya, pihaknya mengusulkan agar dewan membuat perda inisiatif tentang tata niaga pertembakauan. Apalagi, di Kabupaten Probolinggo, lahan perkebunan tembakau makin tahun tambah luas.

Dulu di kecamatan yang tanahnya tidak bagus ditanam tembakau, malah mutunya mengalahkan tembakau di kecamatan yang langganan ditanam tembakau. Misalnya tembakau di Kecamatan Krejengan, kualitasnya tidak kalah dari tembakau Kecamatan Paiton atau Kotaanyar.

Sementara, salah satu pimpinan gudang tembakau di Kabupaten Probolinggo, belum memberikan keterangan. Ia tidak menjawab panggilan maupun pesan singkat dari Kompas.com. Sebelumnya, sejumlah petani tembakau mencopot daun tembakau dan membakar tembakau rajangan karena kecewa gudang tembakau tidak segera dibuka. Aksi itu terjadi di Desa Petunjungan, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2020/08/31/20331471/tanggapan-dprd-probolinggo-soal-petani-kesal-ba