Berita & Artikel

Agile Leadership, Conscious Unbossing, dan Gen Z di Sektor Perkebunan

Ditulis Oleh:

Feby Dwiardiani, S.Psi., M.A., Psi

Subject Matter Expert LPP Agro Nusantara

Embun pagi masih enggan beranjak dari dedauan, aroma tanah basah menyeruak, dan suara burung bersahutan menyampaikan salam kesejukkan. Pagi yang tenang pada suasana perkebunan yang jauh dari hiruk pikuk kota terasa nyaman, seolah waktu berjalan lambat dan kehidupan berjalan menapaki tradisi turun temurun. Kehidupan dan tata cara yang sangat tertata dan mengikuti semua aturan yang telah dilalui selama ini. Termasuk pola interaksi dan kepemimpinan yang patuh pada lapis-lapis hirarki. Dalam keteraturan ini, siapa menyangka sebuah revolusi sunyi sedang berlangsung. Bukan revolusi industri seperti pada pertengahan abad 18, namun revolusi cara memimpin.

Gen Z—generasi baru—yang beberapa tahun ini mulai memasuki dunia kerja, termasuk pada industri Perkebunan. Mereka datang dengan berbagai pengetahuan, dengan ide -ide segar, dan penguasaan teknologi informasi serta internet yang cukup masif. Hal ini memungkinkan mereka mendapatkan berbagai informasi dan memiliki keberanian untuk mengkritisi hal-hal yang dulu dianggap tabu: “Mengapa memimpin harus dengan cara yang berjarak dengan anggota?” atau “Mengapa keputusan harus menunggu tanda tangan berlapis-lapis?” atau “Apakah fungsi sebuah jabatan ini benar-benar memberi dampak bagi pekerjaan?” dan pertanyaan lain yang mulai membuat kita perlu berpikir ulang tentang fungsi dan cara memimpin pada saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah alarm bahwa dunia kerja perkebunan sedang butuh penyegaran. Bahwa pola kepemimpinan selama ini yang cenderung berjarak, hierarkis, dan penuh birokrasi tidak lagi cukup. Industri perkebunan, yang selama ini berjalan dengan pola komando, kini perlu membuka diri pada gaya kepemimpinan yang lebih memberdayakan. Kepemimpinan hirarki yang dulu dianggap kokoh tak tergoyahkan, kini mulai perlu menyesuaikan dengan fenomena counciuos unbossing, yaitu tren di kalangan anak muda yang secara sadar memilih untuk tidak mengambil peran kepemimpinan atau posisi manajerial tradisional, dimana pilihan ini muncul dari pergeseran nilai di dunia kerja. Hal ini, terutama muncul pada cara Gen Z memandang kepemimpinan, tanggung jawab struktural, dan sistem hierarki di perusahaan. Kepemimpinan hirarki mulai digantikan oleh semangat kolaborasi, fleksibilitas, dan keberanian untuk mencoba hal baru (https://nationalgeographic.grid.id/)

Konsep Agile Leadership: Kepemimpinan Lincah di Tengah Tradisi

Pada awalnya, konsep agile berawal pada tahun 2001 sebagai pendekatan untuk manajemen proyek pengembangan perangkat lunak (Bianchi et al., 2020). Seiring berjalannya waktu, agile leadership telah berhasil diterapkan dalam berbagai konteks karena kemampuannya mencapai pengembangan produk ataupun transformasi organisasi yang cepat, berorientasi pada pelanggan, dan digerakkan secara digital melalui keterlibatan internal (Bianchi et al., 2022). Selanjutnya Joiner & Joseph (2007) menyampaikan bahwa agile leadership merupakan suatu kemampuan dari seorang pemimpin untuk mengambil tindakan yang efektif dan bijaksana dalam situasi yang berubah secara cepat dan kompleks. Oleh karena itu, agile leadership bukan sekadar jargon. Mulai tercetus dari dunia teknologi, namun kini relevan dalam berbagai konteks, termasuk industri perkebunan.

Sektor perkebunan, yang selama ini dikenal konservatif, agile leadership dapat menjadi sebuah “angin segar”. Bayangkan seorang manajer kebun yang tidak hanya fokus pada pengawasan produksi, namun juga membuka ruang diskusi bagi anak muda untuk memberikan ide tentang berbagai hal yang dapat diterapkan di era digital dan keberlanjutan.

Agile leadership menggeser peran pemimpin dari “komando” menjadi “fasilitator”. Ia bukan lagi orang yang memberi semua jawaban, melainkan orang yang menciptakan ruang yang aman dan nyaman sehingga tim menemukan jawaban bersama dan menunjukkan prestasi terbaiknya. Prinsip dari agile leadership adalah pemimpin harus lincah, responsif, dan memberdayakan tim.

Conscious Unbossing: Kepemimpinan Minim Ego

Fenomena conscious unbossing kini banyak diperbincangkan. Fenomena ini menunjukkan kepemimpinan yang sadar untuk melepaskan ego, mengurangi hierarki, dan memberdayakan.

Menurut DDI Global Leadership Forecast 2025, Gen Z 1,7 kali lebih mungkin menolak posisi manajerial tradisional demi keseimbangan hidup. Mereka tidak tertarik pada jabatan penuh birokrasi, tetapi lebih pada peran yang memberi makna dan fleksibilitas.

Unbossing bukan berarti “tidak ada bos”, namun mendefinisikan kembali peran bos/atasan sebagai fasilitator, coach, dan katalisator inovasi. Seorang atasan atau pemimpin akan lebih banyak meluangkan waktu untuk mendengar aspirasi dan memberikan ruang partisipasi bagi anggotanya untuk mencapai tujuan bersama dengan hasil yang lebih baik.

Bayangkan seorang kepala kebun yang tidak hanya memberi perintah dan menyalahkan, melainkan turun ke lapangan dengan lebih banyak mendengar ide inovasi dari anak muda, memberi ruang mereka untuk bereksperimen, dan tentu lebih memberdayakan dengan berbagai kreativitas yang dilakukan untuk berkontribusi lebih baik. Itulah esensi unbossing.

Gen Z: Generasi yang Mengubah Aturan Main

Gen Z datang dengan membawa ekspektasi baru ke dunia kerja. Mereka digital-native, kritis, dan tidak sabar dengan birokrasi panjang. Mereka bekerja untuk mencari makna, bukan sekadar penghasilan. Sebuah riset menunjukkan bahwa Gen Z lebih cepat kehilangan engagement bila dipimpin dengan gaya tradisional, dan lebih loyal pada organisasi yang memberi ruang otonomi (Venice et al., 2025).

Di sektor perkebunan, hal ini berarti bahwa:

  • Pola “atasan memerintah dan bawahan melaksanakan” tidak lagi relevan.
  • Gen Z ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
  • Mereka lebih menghargai pemimpin yang transparan dan otentik.

Apa yang perlu dilakukan selanjutnya?

Jika kita amati lebih lanjut konsep fenomena agile leadership dan conscious unbossing merupakan hal yang saling melengkapi. Agile leadership memberi kerangka fleksibilitas, respon cepat, dan kolaborasi, sedangkan councious unbossing memberi makna: trust, pemberdayaan, dan pengurangan hierarki, sehingga dalam konteks praktis pola kepemimpinan ini akan memberi ruang inovasi melalui pemberdayaan, mengurangi resistensi, dan mendorong keberlanjutan dengan fokus pada pembentukan value.

Dengan demikian, agar tetap relevan, sektor perkebunan pada saat ini membutuhkan kepemimpinan dengan karakter yang:

  • Membangun budaya trust, mengurangi micromanagement dan memberi ruang otonomi dengan pengendalian yang tepat
  • Memberikan mentoring lintas generasi, adanya kolaborasi Gen Z dengan senior agar dapat dilakukan transfer ilmu dua arah.
  • Pemanfaatan teknologi dalam setiap aktivitas pekerjaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas namun juga tetap mendukung fleksibilitas.
  • Mendorong employee voice, buka ruang diskusi, town hall, dan feedback loop untuk continous improvement.
    Fokus pada sustainability, pemimpin perlu selalu melibatkan Gen Z dalam proyek keberlanjutan karena pada akhirnya merekalah pemimpin masa depan yang bertanggung jawab atas keberlangsungan perusahaan.

Penutup: Masa Depan Kepemimpinan di Industri Perkebunan

Sektor perkebunan Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi nasional dan produsen global utama untuk minyak sawit (CPO), kopi, karet, kakao, dan rempah-rempah. Sektor ini menjadi pilar devisa negara dengan nilai ekspor yang mencapai triliyunan rupiah dan menopang mata pencaharian jutaan orang. Fokus sektor perkebunan ke depan adalah hilirisasi industri dan keberlanjutan.

Dengan masuknya Gen Z sebagai angkatan kerja pada sektor perkebunan memberikan peluang besar untuk pemanfaatan teknologi pertanian cerdas (smart farming) yang akan meningkatkan produktivitas. Untuk menarik minat Gen Z dan meningktakan engagement yang lebih besar pada sektor perkebunan maka perlu pola kepemimpinan yang lebih fleksibel dengan kebutuhan Gen Z. Tradisi hierarki yang selama ini kuat diterapkan kini berhadapan dengan generasi yang menuntut fleksibilitas dan makna dalam bekerja. Agile leadership merupakan jembatan yang mampu menghubungkan keduanya. Dengan mengintegrasikan prinsip conscious unbossing, kepemimpinan di perkebunan dapat bertransformasi menjadi lebih relevan, memberdayakan, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan lagi tentang siapa yang paling berkuasa, namun siapa yang paling mampu menginspirasi, memberdayakan, dan menggerakkan tim mencapai tujuan bersama dengan bahagia.

Informasi Tambahan:

Artikel ini juga dimuat dalam Majalah Perkebunan Edisi Mei/2026 dan ditayangkan daring di mediaperkebunan.id pada 12 Mei 2026.

Share:

Facebook
LinkedIn

Table of Contents